Warga Tambak Dalam Disebut Tempati Tanah Ilegal

Warga Tambak Dalam Disebut Tempati Tanah Ilegal

suarahukum.com - Persengketaan tanah di Dumar Industri Blok Timur, Tambak Dalam Surabaya, seluas 20,1 hektar, milik empat orang diantaranya Wenas, Agus, Untaryo dan Sugianto, dikuasai ratusan pendatang dari luar kota.

Penguasaan lahan tersebut dibuktikan dengan berdirinya sekitar 180 bangunan liar (bangli) berbentuk rumah. Tanpa seijin pemilik tanah. "Sekitar sejak tahun 2015, tahun 2016 an, hingga saat ini sekitar kurang lebih 180 bangunan rumah permanen. Mereka menempati lahan tersebut hanya berdasarkan bukti kwitansi jual beli," kata Piter Susilo, selaku kuasa hukum dari ke empat pemilik lahan tersebut, pada Sabtu (15/2/2020) dilokasi.

Berdasarkan bukti yang ada, Piter juga menyebutkan bahwa tanah tersebut dijual oleh beberapa oknum dengan harga Rp 10 juta sampai Rp 20 juta. "Tanah tersebut per kapling dijual cukup murah dengan pasaran Rp 10 juta hingga Rp 20 juta, pada tahun lalu, dan itupun tergantung harga pasaran," sebutnya.

Dalam hal ini, Piter berharap agar orang-orang yang sudah menempati lahan tersebut bisa berkordinasi dengan baik bersama kliennya. "Kita akan sosialisasi kepada mereka, untuk melakukan pengosongan lahan. Dan pastinya kita tetap siap ganti rugi bangunannya. Dengan sesuai bangunan yang mereka dirikan. Karena mereka juga termasuk korban dari para oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan apabila tidak segera melakukan pengosongan kita akan lakukan upaya hukum, permohonan exsekusi pengosongan lahan," terangnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa kasus sengketa tersebut pernah ada gugatan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Dengan nomor perkara gugatan 479/Pdt.G/2018/PN SBY. Dan hasil putusan dimenangkan oleh Tergugat I dan II yaitu Wenas Panwell dan PT. Bibrathes Daya. Yang pada saat itu gugatan dilakukan oleh penggugat Budiono.

"Sudah pernah ada gugatan, jadi Ada yang merasa memiki tanah petok, merasa mempunyai sejarah ahli waris, merasa punya surat rekomendasi dari salah satu kades, tapi gugatan semua ditolak, artinya tidak bisa terpenuhi tidak bisa dikabulkan. Karena tidak punya alasan yang kuat. Dan sudah selesai, sudah ingkrah dipengadilan. Kini beberapa oknum penjual itu ada yang kita penjarakan dan ada yang masih buron. Diantaranya Pujiono, Kaslan dan Pandi oknum," ungkapnya.

Sementara, Karim selaku wakil RW 8 Tambak Preng Surabaya, saat dikonfirmasi kebenaran soal lahan tersebut mengatakan benar adanya persengketaan. "Pada saat itu, satu persatu bangunan berdiri dilahan itu. Karena saya sudah pemilik lahan tersebut, saya mencoba menegur orang-orang itu. Namun tetap saya tidak dihiraukan, mereka tetap membangun rumah dilahan itu. Pada akhirnya, saya hanya sebatas menginformasikan saya kepada masing-masing pemilih lahan. Kalo tanahnya ada yang menempati," tambahnya. (Am)

Alfain Jadi Pesakitan Karena Mencuri Rokok
Bacok pesilat Pagar Nusa, oknum PSHT Diadili