Telat Bayar Cicilan, Bos Elektronik Dihukum

Telat Bayar Cicilan, Bos Elektronik Dihukum

suarahukum.com - Telat bayar cicilan barang elektronik, Bos elektronik Pasar Genteng Surabaya, yaitu Djisanto Karoeniadi alias Jimi warga Darmo Permai Utara 1 Surabaya, jadi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Dalam persidangan, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Deddy Arisandi dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Surabaya, terdakwa didakwa Pasal 379a Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Usai sidang, kuasa hukum terdakwa yaitu Piter Manuputi mengatakan bahwa dalam kasus tersebut sebenarnya bukan hukum pidana, namun hukum perdata. "Dia (terdakwa) juga sempat nyicil dan ga pernah telat. Dia juga memberikan jaminan surat toko digenteng. Itu sebenarnya bisa dilakukan peralihan hak, dibawah tangan bisa. Tapi tidak taunya sudah melaporkan ke Polrestabes," katanya kepada suarahukum.com, Senin (9/3/2020) di PN Surabaya.

Menanggapi dakwaan JPU, Piter akan mengajukan esepsi dalam sidang pekan depan. "Kenapa saya esepsi, karena saya anggap itu rananya bukan pidana tapi perdata. Yang jelas terdakwa sudah beberapa kali menyicil dan itupun ada kesepakatan tanda tangan nyicil. Antara pelapor dan terdakwa," pungkasnya.

Diketahui, terdakwa Djisanto Karoeniadi, pada tanggal 11 September 2017 sampai dengan tanggal 23 Oktober 2017 bertempat di Pasar Genteng Lt 3 Blok C-2B Surabaya, melakukan kesepakatan pembayaran barang-barang elektronik. Bahwa pada awalnya terdakwa telah memesan barang elektronik kepada saksi Harjanto Jasin berupa Mic, Speaker, Woofer dan Power sejak bulan September 2017 sampai dengan bulan Oktober 2017 dan proses pembayaran terhadap barang-barang elektronik yang dipesan oleh terdakwa tersebut dibayar setelah 3 bulan, semenjak barang diterima oleh terdakwa.

Selanjutnya, mulai dari September 2017 hingga Oktober 2017, terdakwa pesan barang-barang elektronik. Hingga total tagihan sebesar Rp 507.950.000, kemudian oleh terdakwa pada tanggal 24 Januari 2018 barang-barang yang diterima dari Toko Gamelan tersebut sebagian direturn dengan nilai total secara keseluruhan sebesar Rp 25.650.000, sehingga total kewajiban terdakwa untuk dilakukan pembayaran kepada Toko Gamelan adalah sebesar Rp 482.300.000.

Namun oleh terdakwa barang-barang elektronik yang telah diterima dilakukan pembayaran secara bertahap total sebesar Rp 29 juta. Bahwa semua barang-barang elektronik yang dikirimkan oleh Toko Gamelan berdasarkan pemesanan dari terdakwa dari tanggal 11 September 2017 sampai dengan tanggal 23 Oktober 2017 tidak dibayarkan seluruhnya oleh terdakwa.

Sehingga akibat dari perbuatan terdakwa, saksi Harjanto Jasin dari Toko Gamelan mengalami kerugian sebesar Rp 450 juta. (Am)

Pencuri Masjid, Sariati Dihukum 7 Bulan
Pendiri Gereja Cabuli Anak Dibawah Umur