Sakit Hati, Istri Palu Kepala Suami Sampai Tewas

Sakit Hati, Istri Palu Kepala Suami Sampai Tewas

suarahukum.com - Desy Ayu Indriani (26) warga Jl Sawah Gede I, Karang pilang Surabaya ini, tertunduk saat diadili oleh Ketua Majelis Hakim Hanung, diruang Tirta 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (17/7/2018).

Dipersidangan yang menghadirkan 2 saksi yaitu Simaun selaku orang tua terdakwa dan Slamet mertua terdakwa. Dalam keterangan Slamet, awal pertama melihat anaknya tewas dia menyangka bahwa anaknya bunuh diri dengan menggantungkan diri.

"Saya melihat ada tali yang menjerat lehernya (korban Fendik) dan mulut terlakban. Ya saya kira bunuh diri pak hakim, tapi kata berita ternyata dibunuh," kata Slamet selaku orang tua Fendik (korban), dihadapan majelis hakim.

“Kalau menurut keterangan anak saya (Desy), suaminya berselingkuh. Katanya dua kali,” jelas Simuan, juga sebagai saksi dupersidangan secara kebersamaan.

Simaun juga menegaskan bahwa palu yang ditunjukkan persidangan diakuinya milik anaknya. “Palu itu milik anak saya. Ditemukan di rumah,” tambahnya.

Mendengar keterangan saksi Simaun yang berbelit-belit dan terkesan melindungi anaknya itu, membuat hakim anggota Agus Hamzah menanyakan kematian korban apalah juga dijelaskan oleh terdakwa. “Kalau selingkuh, saudara diberitahu anaknya. Tapi penyebab kematian karena apa, masak tidak diberitahu,” ujar Agus Hamzah selaku anggota hakim.

Pertanyaan itu membuat Simaun semakin tersudut, dan menjelaskan tak tahu. “Saya tidak tahu, cuma dikabari kalau suaminya meninggal dengan gantung diri begitu saja,” jawab Simaun.

Saksi Simaun dan Slamet juga gelagapan, ketika Slamet menuding bahwa kematian anaknya itu rekayasa. “Itu rekayasa pak hakim. Anak saya dibunuh sama istrinya,” ucapnya, dengan nada ngeyel.

Namun, tudingan itu dipertanyakan oleh hakim anggota Sifa’urosidin, apakah saksi mengetahuinya sendiri. “Saudara apa tahu sendiri atau dari orang lain,” tanya Sifa’urosidin dan dijawab saksi Slamet bahwa dirinya tahu dari pemberitaan di media. “Iya sering cek cok dan anak saya juga pernah mengatakan ingin pisahan,” pungkas Slamet.

Dari keterangan kedua saksi terdakwapun membenarkan itu semua. “Iya benar pak hakim, palu memang milik saya,” singkat terdakwa, sambil menunduk.

Seperti diketahui, Fendik Tri Oktasari (27), warga Sawah Gede 1, ditemukan tewas secara gantung diri. Dari kematian yang tak wajar itu, akhirnya diketahui telah dibunuh istrinya Desy Ayu Indriani. Motifnya, terdakwa emosi lantaran suaminya pernah dipergoki dua kali berselingkuh dan dikejar-kejar utang sebesar Rp 15 juta.

Akibatnya, tersangka didakwa pasal 44 ayat 3 UU RI No 32 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga. Ancaman hukumannya 15 tahun kurungan penjara. (Am)

Merasa tak Bersalah, Ladjoni Minta Bebas Penjara
Untung Rp 50 ribu, Residivis Sabu Kunti Disidang