Pembina Pramuka Sodomi Dituntut Kebiri

Pembina Pramuka Sodomi Dituntut Kebiri

suarahukum.com - Sodomi 15 siswa dibawah umur, pembina Pramuka yakni Rahmat Santoso Slamet alias Memet (30) dituntut hukuman Kebiri Kimia dan 14 tahun penjara, oleh Jaksa Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur, diruang sidang Garuda Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (4/11/2019).

Sidang agenda tuntutan tersebut, berlangsung tertutup untuk umum. Salah satu Jaksa Penuntut Umum (JPU) Sabetania R Paembonan dan Rista Erna Soelistiowati dari Kejaksaan Tinggi Jatim usai persidangan enggan memberikan keterangan saat dikonfirmasi. "Ke pimpinan saja ya, saya masih ada sidang lagi," pungkasnya, sembari berjalan.

Sementara, penasehat hukum korban pencabulan dari Surabaya Children Crisis Center (SCCC) Muhammad Dewangga Kahfi mengatakan, terdakwa dituntut 14 tahun penjara dan kebiri kimia dan denda Rp 100 juta Subsider 3 bulan kurungan.

"Untuk kebiri kimianya belum tahu berapa tahunnya," kata Kahfi, saat ditemui awak media usai mengikuti persidangan.

Ia juga mengatakan, pihaknya mengaku puas dengan tuntutan yang diajukan oleh JPU. Sebab, hal itu setimpal dengan perbuatan yang dilakukan terhadap sejumlah korban. "Sangat puas. Karena tuntutan itu setimpal dengan apa yang dilakukan terdakwa kepada para korban-korbannya," pungkas Kahfi.

Untuk diketahui, Subdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim membekuk Rahmat Santoso Slamet atas perbuatan cabul. Pembina Pramuka di enam sekolah di Surabaya ini memaksa anak didiknya melakukan onani dan oral seks. Tak hanya itu, pelaku juga memasukkan tangan ke dubur para korban sejak pertengahan 2016 hingga 2019. Modusnya sederhana, terdakwa mengajak beberapa siswa datang ke kediamannya dengan suatu alibi memberikan binaan khusus tentang Ilmu Kepramukaan.

Kasus ini terbongkar atas laporan orang tua korban. Hasil penyelidikan polisi, ada 15 anak yang menjadi korban tindak asusila ini. Mereka terdiri dari siswa SMP dan SD. Semuanya laki-laki dibawah umur. Polisi juga memastikan bahwa pelaku terindikasi memiliki orientasi seksual menyimpang.

Atas perbuatan ini, pelaku dijerat Pasal 80 dan 82 Undang-Undang Nomor 17/2016 tentang perubahan UU Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukumannya di atas 15 tahun penjara. (Am)

Fauzan Diajak Spion Polisi Hisap Sabu
Palsukan Dokumen, Direktur PT SGBP Dituntut 2 Tahun