Pemberi Nomor HP Bidan Aborsi Tidak Bersaksi

Pemberi Nomor HP Bidan Aborsi Tidak Bersaksi

suarahukum.com - Sidang lanjutan, dalam perkara aborsi yang dilakukan oleh Bidan Siti Malikah (32) asal Lamongan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis dari Kejaksaan Negeri (PN) Surabaya, enggan memanggil oknum Bidan Novia selaku pemberi nomor kontak bidan Siti kepada korban aborsi.

Hal itu disampaikan langsung oleh Jaksa Darwis, usai sidang selesai. "Kalau yang bantu hubungi itu Novianya, baru dia ikut serta," akunya, pada suarahukum.com, Rabu (2/9/2020) di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Menurutnya, kalau memanggil Novi itu hanya memperlambat sidangnya saja, dan keterangannya juga kurang menggigit. "Malaan engga saya panggil dia (Novia), Kalau saya panggil, hanya memperlambat sidang. Keterangannya kan hanya kasih (nomor) telepon saja dan tidak menggigit," pungkas Darwis.

Diketahui, Siti Malika menerima layanan prakter aborsi di kamar hotel OYO pada 19 Maret 2020 lalu. Pada saat ini, Siti Malika melaksanakan praktek aborsinya kepada perempuan berinisial RA, (17) dengan mematok tarif sebesar Rp 2 juta untuk sekali aborsi.

pada saat itu, pasangan kekasih M (32) dan RA (17) meminta bantuan aborsi pada bidan Siti Malika (31). M yang memiliki inisiatif menggugurkan janin sang kekasih. M mengenal bidan Siti Malika melalui WhatsApp.

Setelah janjian ketemu disebuah mini market, pasangan kekasih dan bidan Siti Malikan tersebut kemudian menuju sebuah hotel. Lalu melakukan praktik aborsi.

Namun sebelum melakukan aborsi, M terlebih dahulu melakukan tawar menawar untuk tarif aborsi. Akhirnya disepakati tarif untuk aborsi sebesar Rp 2 juta.

Berdasarkan pengakuan bidan Siti Malika, praktik aborsi ini sudah dilakukan sejak tiga tahun lalu. Setiap bulannya selalu ada pasien yang meminta digugurkan. Lokasi pengguguran selalu di hotel. Namun tidak di hotel yang sama antara satu pasien dengan pasien lain.

Akibat perbuatannya, terdakwa didakwa Pasal 75 ayat (2) Undang-Undang No 36 tahun 2009 tentang kesehatan, dan juga tak luput dari perlindungan anak dan perempuan. (Am)

Kantor PN Bangil Tutup Sementara
Tiga Wanita Nyabu Dihukum 2 Tahun 6 Bulan Penjara