Pasutri Direktur PT Development Leadership Corporation Diadili

Pasutri Direktur PT Development Leadership Corporation Diadili

suarahukum.com - Karena posting kalimat ‘Songong’ di media sosial (medsos) facebook, Direktur PT Development Leadership Corporation (LDC), Yudi Imran Salimi (51) bersama istrinya Nuke Sari Salimi (45) asal Bogor Jawa Barat, disidang diruang Garuda 1 Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Rabu (15/5/2019) kemarin.

Dalam persidangan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ahmad Junaidi dari Kejati Jatim, mendakwa kedua terdakwa dengan Pasal 27 ayat (3) jo pasal 45 ayat (3) UU RI No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU RI No 11 Tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menurut saksi Rohman, kejadian dugaan pencemaran nama baik dilakukan terdakwa pada tahun 2017 lalu. "Setelah saya mendapat kabar (Agustus 2017), saya melihat facebook kedua terdakwa yang mana dengan mengcroping status saksi dan menambahkan kalimat yang tidak pantas, dengan bahasa songong dan mengajak perang," ujar saksi Rohman, yang sudah 6 tahunan berteman di Facebook kedua terdakwa.

Selain itu, saksi juga melihat banyak komentar pro kontra. Bahkan kedua terdakwa kembali memposting status kepribadian saksi pelapor Eben Maha. "Dibulan yang sama (Agustus 2017), terdakwa kembali memposting status dengan kalimat menghina nama baik pelapor," tutupnya.

Usai sidang saat ditemui suarahukum.com, Jaksa Ahmad Junaidi mengaku sengaja tidak menahan kedua terdakwa, dikarenakan ancaman hukumannya terlalu ringan. "Gak bisa mas, karena ancaman hukumannya 4 tahun," dalihnya.

Sementara, menanggapi sidang yang menjerat pasangan suami istri tersebut, pelapor Eben mengaku sangat dirugikan baik materil maupun non materil. "Dalam postingan itu, banyak dibaca dan dikomentari orang banyak. Bahkan keluarga saya, juga membaca sehingga saya dirugikan baik materil maupun non materil," akunya kepada Suarahukum.com, dihalaman PN Surabaya.

Di PN Surabaya ini, Eben sangat berharap ada keadilan buatnya. "Dalam pengadilan ini, saya sangat percaya kepada Jaksa dan Hakim sebagai penegak hukum, dapat memberikan keadilan yang sesuai dengan hukum yang berlaku," pungkasnya.

Diketahui, pelapor Eben Maha menyatakan, bahwa dirinya pada Agustus 2017, memposting status di facebook ‘Seorang pria sejati tidak perlu menyatakan dia lelaki karena kelaki-lakiannya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa dia laki-laki. Sama seperti good leader, good leader sejati tidak perlu menyatakan bahwa dirinya good leader, biarkan orang-orang yang dipimpin atau mantan pengikutnya yang menilai apakah betul seorang good leader atau jangn-jangan bad leader. Jika good leader harus mengatakan bahwa dia good leader, itu seperti laki-laki yang kehilangan kelaki-lakiannya sehingga dia harus mengatakan bah dia laki laki. Salam Good Leader’

Namun dalam postingan tersebut, telah di screenshot oleh orang lain dan dijadikan status dengan diberi kalimat yang menurutnya tidak pantas. Disaat itulah kedua terdakwa memposting status dan mencantumkan namanya yang disebut sebagai maling, plagiat dan songong. (Am)

Bappenas Wacanakan Penyelesaian Hukum Dengan Jalur Mediasi
Pemilik Warung Kopi Doly Sewakan Kamar Seksual