Pakar: Putusan Penganiaya Wartawan Mengambang

Pakar: Putusan Penganiaya Wartawan Mengambang

suarahukum.com - Meskipun Ketua Majelis Hakm Mohammad Basir sudah memberikan putusan 10 bulan penjara, namun terdakwa Bripka Purwanto dan Brigadir Muhammad Firman Subkhi tidak menjalani tahanan.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Winarko dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur pun terkesan enggan melakukan eksekusi penjara terhadap putusan nomor 1917/Pid.Sus/2021/PN Sby. Yang menyatakan, ‘Menyatakan Terdakwa Purwanto dan Terdakwa Muhammad Firman Subkhi, SH terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana PERS secara bersama-sama sebagaimana dakwaan Pertama dan Menjatuhkan pidana terhadap Para Terdakwa, oleh karana itu dengan pidana penjara masing masing selama 10 ( sepuluh ) bulan’.

Selain itu, dalam putusan juga mengharuskan Bripka Purwanto dan Brigadir Muhammad Firman Subkhi membayar Restitusi kepada Korban Nurhadi sebesar Rp. 13.819.000 dan Mochamad Fachmi Subkhi sebesar Rp 21.650.000.

Menangapi hal ini, Pakar Hukum I Wayan Titib Sulaksana angkat bicara. Kepada suarahukum.com, Dosen Unair ini mengatakan bahwa kedua terdakwa Bripka Purwanto dan Brigadir Muhammad Firman Subkhi beruntung.

"Tidak ditahan, wah..! Harusnya dipenjara selama 10 bulan. Hanya saja tidak ada perintah segera masuk (penjara). Jadi putusannya ngambang," heranya, Kamis (13/1/2022) melalui chat selulernya.

Untuk diketahui, perkara ini berawal hari Sabtu (27/3/2021). Saat itu wartawan Nurhadi tiba di Gedung Samudra Bumimoro Surabaya untuk mendapatkan keterangan dari seorang pejabat di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan. Kasus pejabat ditangani oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Nurhadi mendatangi pejabat yang tengah menggelar resepsi pernikahan di gedung tersebut. Namun dia didatangi panitia pernikahan dan menanyai tamu dari mana. Nurhadi pun menjawab kedatangannya dari mempelai perempuan, tapi perwakilan keluarga dari pihak perempuan mengaku tidak kenal.

Setelah itu, Nurhadi didorong menjauh ke belakang gedung, yang diduga oleh seeorang ajudan pejabat tersebut. Telepon genggamnya juga dirampas, dikata-katai dan diancam pembunuhan.

Tidak berhenti di sana. Nurhadi dibawa seorang anggota diduga dari kesatuan TNI ke sebuah pos untuk ditanyai mengenai identitas. Selepas itu, Nurhadi akan dibawa ke Polres Pelabuhan Tanjung Perak. Di tengah perjalanan, ia dibawa kembali ke gedung tempat resespi untuk interograsi oleh aparat dan seorang ajudan pejabat pajak itu.

Wartawan Nurhadi, di interogasi disertai dengan tendangan, pukulan dan penamparan hingga ancaman pembunuhan. Anehnya setelah itu, disorongkan uang Rp 600 ribu dalam lembaran sebagai ganti kerusakan telepon genggam. Namun ditolak dan dikembalikan ke mobil yang mengantarnya pulang.

Setelah itu, Nurhadi pulang ke rumah diantar oleh dua orang mengaku sebagai polisi pada Minggu (28/3/2021) pukul 02.00 dini hari. Nurhadi mengalami luka robek di bibir dan dada sesak akibat pemukulan. Atas kekerasan yang menimpa Nurhadi, kata rekannya Eben, akan menempuh upaya hukum dan melaporkan ke Polda Jawa Timur. (Am)

Vonis 10 Bulan, Penganiaya Wartawan Tidak Ditahan
AJI Kecewa Penganiaya Wartawan Tidak Ditahan