Koruptor Eddy Rumpoko Dituntut 8 Tahun

Koruptor Eddy Rumpoko Dituntut 8 Tahun

suarahukum.com - Eddy Rumpoko, mantan Wali Kota Batu terdakwa kasus korupsi kasus suap proyek tahun 2016, oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Ronald Ferdinand Worontika, dituntut 8 tahun penjara.

Jaksa KPK menilai, Eddy Rumpoko melanggar Pasal 12 huruf a undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, junto pasal 55 ayat 1 ke (1) KUHP, juntco pasal 64 ayat (1) KUHP. "Menuntut terdakwa Eddy Rumpoko dengan hukuman pidana penjara selama 8 tahun penjara," kata Ronald Ferdinand Worontika saat membacakan surat tuntutan di ruang Cakra di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Surabaya, Jum'at (6/4/2018).

Selain menuntut hukuman badan, Eddy Rumpoko juga dihukum membayar denda yang nilainya ratusan miliar rupiah. Dan sesuai kententuan, apabila denda tersebut tidak dibayar, maka akan diganti dengan pidana kurungan. "Terdakwa juga dihukum membayar denda sebesar Rp. 600 juta, subsider 6 bulan kurungan," lanjut Jaksa KPK ini.

Selain itu, Jaksa dari KPK ini juga meminta majelis hakim yang diketuai oleh hakim Unggul Mukti Warso untuk mencabut hak politik Eddy Rumpoko. "Mencabut hak politik terdakwa Eddy Rumpoko selama 5 tahun terhitung setelah menjalani hukuman," terang jaksa Ronald Ferdinand Worontika.

Adapun dalam pertimbangan JPU, hal yang memberatkan terdakwa selama menjalani sidang bersikap berbelit-belit dan perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.

Menyikapi tuntutan JPU KPK tersebut, Eddy Rumpoko melalui tim penasehat hukumnya akan mengajukan nota pembelaan atau pledoi yang akan dibacakan pada persidangan pekan depan.

Perlu diketahui, pada tanggal 26 Mei 2016 lalu, terdakwa Eddy Rumpoko telah menerima suap berupa mobil merek Toyota New Alphard senilai Rp 1,6 miliar dari pengusaha Filiphus Djap. Setelah itu, Eddy disuap dengan uang Rp 95 juta dan Rp 200 juta. Uang diberikan karena Eddy Rumpoko menjanjikan akan memberikan proyek-proyek atau paket pekerjaan yang bersumber pada APBD Pemkot Batu.

Janji terdakwa Eddy Rumpoko yang akan memberikan proyek pada Filiphus akhirnya terbukti. melalui dua perusahaannya, yakni PT Dailbana Prima Indonesia dan CV Amarta Wisesa, Filiphus memenangkan lelang tujuh proyek pengadaan barang Pemkot Batu tahun 2016 dengan total proyek senilai Rp 11 miliar.

Selanjutnya, pada 2017, Filiphus kembali memenangi proyek pengadaan pekerjaan belanja modal peralatan dan mesin untuk pengadaan meubelair senilai Rp 5,26 miliar dan pengadaan pekerjaan pakaian dinas dan atributnya senilai Rp 1,44 miliar.

Dalam proyek pengadaan meubelair, Eddy melalui Ketua Kelompok Kerja Badan Layanan Pengadaan Barang dan Jasa VI Unit Layanan Pengadaan Pemkot Batu Edi Setiawan meminta fee 10 persen. Sedangkan Edi menerima 2 persen.

Terdakwa Eddy Rumpoko ditangkap oleh KPK pada 16 September 2017 lalu. Mantan orang nomor satu di Kota Apel ini ditangkap melalui operasi tangkap tangan (OTT). Selain Eddy Rumpko, KPK juga menangkap Kepala Bagian Unit Layanan Pengadaan Pemkot Batu Edi Setyawan dan Pengusaha Filiphus. (Am)

JAM Pidsus Limpahkan Tahanan Korupsi PT Dok dan Perkapalan
Pijat Puji Astuti Dibayar Sabu