Komisi Yudisial Pantau Persidangan Henry Jocosity Gunawan

Komisi Yudisial Pantau Persidangan Henry Jocosity Gunawan

suarahukum.com - Akhirnya, Komisi Yudisial RI memantau jalannya persidangan kasus penggelapan dan penipuan yang menjerat Henry Jocosity Gunawan sebagai pesakitan. Pemantauan itu dilakukan KY Penghubung Jatim selaku kepanjangan tangan KY Pusat.

Pada wartawan, KY Jatim Ubed Agus Razali mengaku, bersama rekan kerjanya Ragil Kusnaning Rini sudah melakukan pemantauan sidang perkara Hendry selama dua kali. "Sudah dua kali kami mengikuti persidangan perkara ini," katanya di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (13/11/2017).

Sementara, saat KY melakukan pemantuan, persidangan perkara ini sedang digelar diruang candra PN Surabaya dengan agenda mendengarkan keterangan empat orang saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ali Prakoso. Mereka adalah, Yudi Alfian Tedjo dan Ane Tandio, dua orang pembeli tanah (objek masalah). Sedangkan dua saksi lainnya adalah Notaris Hengky Budi dan Mantan Dirut PT Gala Bumi Perkasa (GBP), Raja Sirait.

Seperti diketahui, turunnya KY Jatim pada persidangan kasus Henry J Gunawan di PN Surabaya buntut laporan Gerakan Putra Daerah (GPD) Surabaya ke Komisi Yudisial RI beberapa waktu lalu. GPD saat itu mengadukan hakim Unggul Mukti Warso ke Komisi Yudisial RI dan Bawas MA RI. Pengaduan dilakukan, lantaran hakim dianggap tidak netral ataupun profesional. Dan juga pemberian penetapan penangguhan penahanan terhadap Henry Jocosity Gunawan sebagai pesakitan. Pemantauan itu dilakukan KY Penghubung Jatim selaku kepanjangan secara lisan dan dikabulkan oleh hakim.

Padahal Henry Jocosity Gunawan duduk sebagai pesakitan karena laporan Notaris Caroline C Kalampung. Saat itu, Notaris Caroline mempunyai seorang klien yang sedang melakukan jual beli tanah sebesar Rp 4,5 miliar. Setelah membayar ke Henry, korban tak kunjung menerima Surat Hak Guna Bangunan (SHGB).

Namun, Saat korban ingin mengambil haknya, Henry mengaku bahwa SHGB tersebut di tangan notaris Caroline. Namun setelah dicek, Caroline mengaku bahwa SHGB tersebut telah diambil seseorang yang mengaku sebagai anak buah Henry. Kabarnya, SHGB itu ternyata dijual lagi ke orang lain oleh Bos PT Gala Bumi Perkasa itu dengan harga Rp 10 miliar. (Am)

Soal Raskin, Kades Klampis Bangkalan Dipolisikan
Drs. Toni Sugiyanto: Proses Rehabilitasi Ada 2 Macam