Kantor IDI Surabaya Didemo, Minta Dokter Eye Clinik Diproses

Kantor IDI Surabaya Didemo, Minta Dokter Eye Clinik Diproses

suarahukum.com - Mengatasnamakan Aliansi Surabaya Peduli Pasien, kantor Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Surabaya, di jl Prof Dr Moestopo Surabaya, pada Rabu (1/3/2017) sekitar jam 10.00 wib didemo. Para pendemo menuntut keadilan dan tanggung jawab, Dr Moestidjab Direktur yang juga dokter Klinik Mata (Eye Clinik) di Jl Raya Jemur Sari No 108, Jemur Wonosari, Wonocolo, yang dianggap telah melakukan malpraktik pada Tatok Poerwanto (65), warga Jalan Ubi II Surabaya..

Koordinator demo, Antok Siswoyo pada suarahukum.com mengaku, kasus ini berawal saat Tatok mendapat perawatan medis atas penyakit katarak yang dideritanya di Surabaya Eye Clinic pada 28 April 2016 dan ditangani oleh dokter Moestidjab. Usai operasi, kondisi mata Tatok kian parah. Oleh dokter Moestidjab, Tatok disarankan kembali menjalani operasi di Rumah Sakit Graha Amerta, Surabaya.

Namun usai menjalani operasi yang kedua kalinya, asisten dokter Moestidjab justru mengatakan bahwa operasi tidak dapat dilanjutkan karena adanya pendarahan dan peralatan kurang canggih. Kemudian dokter Moestidjab merujuk Tatok agar segera berobat ke Singapura.

Ironisnya sesampai Singapura, lokasi yang disarankan dokter Moestidjab tenyata justru tidak layak. Keluarga pun akhirnya memutuskan membawa Tatok ke Singapore National Eye Centre di Singapura. Dari hasil keterangan di Singapore National Eye Centre itulah terungkap bahwa Tatok telah menjadi korban malpraktik dokter Moestidjab.

Rekam medis dari Singapore National Eye Centre menjelaskan bahwa kondisi mata Tatok sudah tidak bisa ditangani lagi karena kesalahan saat operasi pertama yang dilakukan dokter Moestidjab.

"Seperti contoh kasusnya Dokter Moestidjab ini, melakukan operasi 2 kali pada pasiennya hingga mengalami kebutaan. Kami sudah melaporkan hal ini pada IDI, tapi jawaban IDI hanya tunggu-tunggu dan tunggu, hingga sampai sekarang tidak ada tindak lanjutnya," terang Antok pada suarahukum.com.

Karena hal tersebut, menurutnya IDI hanyalah dokter-dokter yang hanya mencari keuntungan hanya bisa santai ngopi diwarung. "Dan sudah hampir 1 tahun kasus ini tidak ada tindakannya. Tujuan berdemo ini, agar IDI bisa menegakkan keadilan untuk masyarakat kecil, dan akan menindak lanjuti hukuman buat dokter-dokter nakal. Karena pasien-pasien bukanlah kelinci percobaan," tambah Antok, meminta pertanggung jawab dokter Moestidjab.

Namun sayang, Dr Moestidjab belum dapat dikonfirmasi. Melalui Seketariat IDI, Heru Mustofa mengaku, jika kasus ini tidak benar. "Sebanarnya kasus ini sudah ada proses yang berjalan, pengurus IDI ada niatan untuk mediasi. Kasus ini sudah ditindak lanjuti, cuman masih belum ada titik temu saja," jelasnya. (Am)

 

Berkas Kasus Gerbong Mafia Pelindo 3 Sudah di Kejaksaan
Komis III DPR RI Hadiri Pemusnahan Barang Bukti, Kapolda Jatim Mengeluh