Dokter Lydia Pidanakan Direktur RS Mata Undaan

(kiri) Lydia Nuradianti (kanan) Sudjarno

Dokter Lydia Pidanakan Direktur RS Mata Undaan

suarahukum.com - Lydia Nuradianti Sp.M dokter spesialis Rumah Sakit (RS) Mata Undaan di Surabaya mempidanakan Direktur RS Mata Undaan dr H Sudjarno W, Sp.M. Alasannya dalam dakwaan, terdakwa yang berusia 86 tahun ini, dianggap sudah melakukan kegiatan dilar kewenangan, yakni etik kedokteran.

Saat di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (2/6/2020), Lydia Nuradianti menyatakan kepada Ketua Majelis Hakim Martin Ginting, peristiwa itu terjadi 29 November 2017. Saat itu, ada satu pasien bernama Alessandrasesha Santoso datang untuk operasi Incisi Hordeolum karena bagian mata mengalami infeksi dan ada benjolan di kelopak matanya.

"Saya sedang melakukan operasi pada pasien lain. Kemudian saya mendapatkan informasi bahwa pasien tersebut mendapatkan tindakan medis dari perawat Anggi dan bukan saya yang melakukan operasi pada pasien," kata Dokter Lydia Nuradianti .

Menurut Dokter Lydia Nuradianti, keluhan yang didapati pasien setelah operasi yakni, mata masih merah. "Saat buka ikat kepala, mata pasien masih merah," ujarnya.

Karena itu, ia mendapat teguran tertulis dari Direktur RS Mata Undaan dr H Sudjarno W, Sp.M. "Direktur (Sudjarno) memberikan saya Surat Peringatan (SP), yang isinya bahwa saya telah melanggar prosedur kerja dan etik profesi. Dan Saya menolak," tambahnya.

Sementara, Nur Yahya kuasa hukum terdakwa Sudjarno usai sidang mengaku kepada awak media, bahwa perawat bermana Anggi Surya Arsana, A.Md.Kep, bekerja atas perintah dr Lydia Nuradianti Sp.M.

"Dokter Lydia memberikan mandat secara lisan kepada penanggung jawab OK 5 dan OK 6, (istilah ruangan dalam Rumah Sakit mata Undaan) untuk melakukan operasi. OK 5 (lima) itu ada dua orang penanggung jawabnya, namanya Bu Mur (tenaga medis) dan Anggi. Akan tetapi, dalam persidangan Lydia membantah dan menyatakan tidak pernah medelagsikan melakukan operasi pada Anggi," jelas Nur Yahya, perkara ini dianggap tindakan administrasi antara pimpinan dan bawahan.

Dalam dakwaan, perkara ini ada setelah ada surat keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) No: 06/MKEK/IDI-SBY/VII/2018 Tanggal 20 Agustus 2018, yang menetapkan dr Lydia Nuradianti Sp.M tidak terbukti melakukan pelanggaran kode etik.

Lepas dari tuduhan tidak pernah melakukan pelanggaran etika dan profesi, dr Lydia Nuradianti Sp.M melaporkan Direktur RS Mata Undaan dr H Sudjarno W, Sp.M ke Polrestabes Surabaya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) I Gede Willy Pramana, SH kemudian mendakwa terdakwa dengan Pasal 310 ayat (2) dan 311 ayat (1) KUHP tentang pencemaran nama baik. (Am/Tok)

Ludo Oktavianto Bawa Kabur Motor Teman
Petugas Cek Point Covid-19 Pemkot Surabaya Nyabu