Dituntut 3 Bulan, Guru Besar Ubaya Diganjar 5 Bulan Penjara

Dituntut 3 Bulan, Guru Besar Ubaya Diganjar 5 Bulan Penjara

suarahukum.com - Harapan bebas pidana Guru besar Universitas Surabaya (Ubaya) Prof. Dr. Lanny Kusumawati Dra., S.H., M.Hum, gugur. Jaksa yang sebelumnya menuntut terdakwa 3 bulan penjara, namun oleh Ketua Majelis Hakim Maxi Sigarlaki, terdakwa malah diganjar hukuman 5 bulan penjara.

"Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti secara sah membuat surat palsu, menjatuhkan pidana penjara selama 5 bulan," kata Maxi di ruang Sari 2, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (9/8/2018).

Dalam amar putusan, hakim menilai bahwa terdakwa Prof Dr Lanny terbukti bersalah melanggar Pasal 263 ayat 1 KUHP tentang pemalsuan.

Mendengar putusan hakim, terdakwa Prof Lanny terlihat tertunduk lesu. Dan menyatakan tidak menerima putusan hakim dan melakukan upaya banding. "Saya banding pak hakim," ujarnya usai berkomunikasi dengan kuasa hukumnya.

Usai sidang, kuasa hukum terdakwa yakni Syaiful Fahrudin menyatakan bahwa vonis ini tidak sesuai dengan fakta persidangan. Sebab menurut dia kerugian yang dialami pelapor ini bukan karena cover note yang dibuat terdakwa. "Ini kan masalahnya pelapor mengajukan SHM ditolak oleh BPN dan itu bukan karena cover note," ujarnya, pada awak media, usai sidang.

Syaiful juga menyayangkan putusan hakim, karena dianggap memvonis lebih tinggi dari tuntutan Jaksa. "Itu tidak benar hakimnya, berlebihan itu," pungkas.

BACA JUGA: Guru Besar Ubaya Lanny Kusumawati Ditahan

Perlu diketahui, Prof. Dr Lanny Kusumawati Dra SH Mhum ditetapkan tersangka atas laporan Suwarlina Linaksita ke Polrestabes Surabaya. Dia dituding memberikan keterangan palsu pada akte otentik berupa cover notes dan kemudian surat keterangan perihal cover notes tersebut digunakan seseorang yang bernama Eka Ingwahjuniarti untuk mengeksekusi rumah dan tanah yang berlokasi di Jalan Kembang Jepun 29 Surabaya, yang ditempati pelapor sejak tahun 1931 tersebut. (Am)

Copet Angkot Ditabrak Anggota Lantas Perak
Polsek Semampir Lepas Penadah Rp 100 Juta?