Bos Hasan Aman Santoso Dihukum Percobaan

Bos Hasan Aman Santoso Dihukum Percobaan

suarahukum.com - Hasan Aman Santoso, terdakwa pemasulan surat dan penipuan jual beli truk Hino dibebaskan oleh Ketua Hakim Yulisar, SH,MH. Bos ekspedisi PT Aman Santoso ini hanya menjalani vonis percobaan selama satu tahun.

"Anda dihukum 6 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun, selama itu anda tidak boleh melalukan tindak pidana kecuali tilang, atau ada putusan lain dikemudian harinya," kata Hakim Yulisar pada terdakwa Hasan, diruang kartika 1 PN Surabaya, Rabu (7/2/2018).

Mendengar hal tersebut, Jaksa Siska Christina yang sebelumnya menjatuhkan tuntututan 2 tahun 6 bulan penjara langsung mengajukan upaya hukum banding. "Kami banding," tegasnya menjawab pertanyaan Hakim Yulisar diakhir persidangan.

Terpisah, korban Eddi Tanuwijaya melalui kuasa hukumnya Wellem Mintarja mengaku kecewa. Baginya, hukuman percobaan itu telah mencederai rasa keadilan. "Putusan percobaaan ini tidak dapat menjadi efek jera bagi terdakwa Hasan, karena sangat ringan dan kurang memenuhi rasa keadilan," paparnya.

Wellem pun mengaku akan melakukan gugatan perdata terkait pertimbangan putusan hakim Yulisar yang mengembalikan barang bukti truk hino tersebut kepada terdakwa. "Kami akan gugat perdata karena memang belum ada pelunasan tapi barang bukti itu malah dikembalikan ke terdakwa," akunya.

Sementara, Ismet Al Fayet selaku penasehat hukum terdakwa Hasan Aman Santoso mengaku belum bersikap atas putusan Hakim. "Semestinya bebas bukan percobaan dan kami masih pikir-pikir atas putusan ini," terangnya.

Perlu diketahui, dalam perkara No 3140/Pid.B/2017/PN SBY, kasus ini bermula Karyawan PT Indomobil Finance Agus Sulistiyono memperkenalkan korban Eddi Tanuwijaya kepada terdakwa Hasan Aman Santoso. Perkenalan tersebut tak lain membahas pembelian truck tracktor Head Hino SG 260 Tahun 2014 warna hijau Nopol: W -8960-UF.

Setelah sepakat, antara korban dan terdakwa lalu melakukan oper kredit. Korban Eddi Tanuwijaya mengatakan kepada Terdakwa jika truck tractor Head Hino miliknya dijual seharga Rp 510 juta. Dimana pembayaran awal sebesar Rp 312.236.000, nantinya melanjutkan sisa 9 kali angsuran di PT.Indomobil sebesar Rp 197.764.000.

Pada tanggal 30 September 2016, terdakwa Hasan mentransfer uang sebesar Rp 20 juta, dan kemudian tanggal 05 Oktober 2016, terdakwa menyerahkan 3 lembar cek dari Bank BNI Rp 245 juta dan Rp 23.618.000, dengan jatuh tempo tanggal 11 Nopember 2016.

Selanjutnya, tanggal 11 Oktober 2016 korban Eddi Tanuwijaya menuju Bank BCA untuk mencairkan cek No.CP 794268 dan No. CP 794269. Namun, cek tersebut ditolak pihak Bank dengan alasan saldo direkening tidak ada juga syarat formal cek atau bilyet giro tidak dipenuhi dimana tidak ada penyebutan tempat dan tanggal penarikan.

Korban Eddi Tanuwijaya lalu mencoba menghubungi terdakwa untuk memberitahukan jika cek tersebut ditolak oleh bank. Namun, saat itu terdakwa tidak dapat dihubungi. Hal tersebut kemudian diberitahukan pada Agus Sulistiyono, pegawai PT Indomobil Finance.

Beberapa hari kemudian saksi Agus Sulistiyono memberitahukan kepada saksi korban Eddi Tanuwijaya jika terdakwa mengatakan cek bisa dicairkan tanggal 29 Nopember 2016. Namun, lagi-lagi pencairan ditolak pihak bank, dengan alasan diblokir karena hilang dengan dilampiri surat laporan kehilangan dari Polsek Kenjeran Surabaya.

Dianggap akal-akalan dan tidak menepati janji, kasus ini kemudian dimejahijaukan. Akibat perbuatan terdakwa, saksi korban Eddi Tanuwijaya mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp 250 juta. (Am/Tok)

 

Guru Ngaji Cabul Dituntut Berbeda
Terdakwa Togel Didakwa UU ITE